Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014

nDalem Katimbulan...

Suatu ketika salah seorang kawan bertanya *melalui statusnya di FB tentang dimanakah nDalem Katimbulan itu? Cukup menggelitik karena jika dicari di google map pasti tidak akan ketemu, namun akan di dapatkan bila melalui Foursquare (salah tulis rak?) Hehehe... Apapun itu tak perlu kutuliskan tentang darimana asal muasal nama indah tadi. Subyektif jika aku mengatakan bahwa seringkali ada suatu rumah indah, bahkan megah, hanya sekedar menjadi rumah. Bagiku rumah lebih nyaman jika menjadi tempat tinggal, dimana di dalamnya jiwa dan raga serta doa dan harapan tinggal, saling menguatkan, dan mengisi. Bukan sok filosofis, namun itulah gambaran idealisme-ku tentang arti kata tempat tinggal. Bukan hanya sekedar rumah.. Salah satu warga nDalem Katimbulan adalah Vivi. Persahabatanku dengan Vivi kurang lebih 20 tahunan, bisa terbayang betapa kami saling mengetahui kebusukan dan juga keindahan masing- masing. Jangan dikira kami kompak karena kami tanpa berkonflik, justru kami saling mengkritis

Suatu masa-ku...

Bagiku yang namanya teman itu sangat luar biasa indah, apalagi jika sampai pada taraf sahabat. Dalam berteman ataupun bersahabat pasti ada komitmen yang tentunya satu dan yang lainnya akan menghormati dan sebisa mungkin tidak melanggarnya. Itu idealismenya. Suatu masa di jamanku, dia adalah sosok sahabat yang mengisi hari-ku, kemanapun pergi kami selalu bersama, sampai akhirnya suatu ketika kami berpisah untuk melanjutkan hidup, mencari rejeki di bumi Allah dimanapaun berada. Waktu yang menyisakan perasaan yang kupunya. Aku berusaha dengan tanpa berpikir panjang bahwa ini adalah bagianku. Sepucuk surat kulayangkan dengan menembus semua komitmen yang telah terbangun. Gairah muda tanpa berpikir panjang akhirnya suatu kebodohan tersebut kulakukan. Hanya berpikir demi memusakan egoisku, semua hal kutuliskan.... Waktu dimulai dan berjalan sangat lambat, surat itu tak pernah terbalas... Sampai akhirnya kami bertemu dengan semua kecanggungan yang ada, jelas dalam hal ters

Smokey...

Gambar
Sejak diasuh kedua orang tua angkatku, seperti yang pernah kuceritakan pada bebarapa tulisanku yang lalu, aku hanya berteman dengan 2 ekor anjing yang mereka piara. Uniknya pada awalnya aku sangat takut akan ke dua binatang ini, namun berjalannya waktu mereka adalah "teman-ku" yang paling setia. Sayang saat aku menginjak SMP ke-dua anjingku meninggal diracun orang. 8 Tahun lalu, tiba-tiba keinginan untuk memelihara binatang muncul lagi. Beberapa tempat yang menjual aneka satwa aku datangi, namun tak satupun yang membuatku tertarik. Hingga pada suatu saat atas rekomendasi salah seorang kawan, aku ditawarin anak anjing yang baru berumur sekitar 2 Bulan. Dia peranakan Pekingse dan Bulldog . Saat pertama aku langsung suka dengan anjing kecil tersebut, langsung saja aku ambil dia untuk kupiara. Awal-awal pindah di keluarga baru pastilah anjing kecil tersebut meringik-ringik, dan tentu saja menimbulkan tanya dari Ibu dan Bapakku, termasuk para tetangga. Saat ku adop

Romansa Pensiunan..

Awal Bulan artinya menitipkan uang ke Bank dalam wujud tabungan, yang nantinya dibagikan kepada yang membutuhkan koyo to : mbayar utang, kreditan, lan liyo liyane, itulah fungsi gaji bulananku, tambal sana jebol sini. #Aku ora popo qiqiqiqi.. Pagi itu Bank BRI nampak ramai, karena masih tanggal muda sehingga banyak orang melakukan transaksi. Kuambil nomor antrian kemudian duduk, menunggu nomerku dipanggil. Nampak masih 9 orang lagi jatah antrianku datang. Tiba-tiba mata ini terpaku pada sepasang suami istri yang sudah sepuh-sepuh. Bulan lalu saat menabung di Cabang Jetis ini sepasang suami istri tersebut juga sedang bertransaksi di tempat ini. "NOMOR ANTRIAN 34" bunyi mesin otomatis memanggil. Seorang pemuda maju ke meja teller. Aku beranjak dan pindah di kursi yang ditinggalkan pemuda tersebut, sehingga duduk sejajar dengan Bapak yang kusebutkan tadi. "Badhe ngantor mas?" Tanya Bapak tersebut ramah. "Injih Pak", jawabku. "Ngasto wonten pundi, m