Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

1983 s/d 2013

30 Tahun yang lalu kehidupanku berubah. Dari status anak bungsu dari 6 bersaudara menjadi anak tunggal. Hal ini terjadi karena aku diadopsi oleh sepasang suami istri yang tidak dikaruniai anak. Mereka adalah tetangga dari pamanku. Awal yang canggung saat kelas 2 SD harus memanggil Bapak dan Ibu kepada sepasang sosok asing tersebut. Namun waktu yang menjawab... Ketelatenan mereka, cinta kasih yang diberikan, dan juga perhatian yang tak pernah habis membuatku akhirnya merasa nyaman dan bisa menyebut Ibu dan Bapak kepada mereka. Sebuah pelajaran cinta dan kasih sayang yang tak pernah bisa kulupakan. Ukiran hidup ini, jiwa yang terbentuk ini, bahkan warna dalam seluruh hariku tak lepas dari peranan mereka. Jika kemarin aku sempat berpikir bukan perkara mudah merawat mereka saat sakit, tapi aku yakin bukan hal yang mudah juga saat mereka harus mendidikku, menjadikan sosok seperti sekarang. Amanah yang dulu diberikan Allah SWT untuk membesarkanku telah mereka selesaikan dengan baik, hi

Tulisan Sampah..

"Sering kali manusia menyesali sesuatu yang belum dimiliki, bukannya mensyukuri yang sudah dimiliki" Kira-kira begitulah kalimat bijak yang sering kubaca. Sebenarnya sadar akan hal tersebut, namun luar biasa gila rasanya jika mempunyai keinginan akan suatu hal dan belum kesampaian. Hal berat adalah adalah justru melawan diri sendiri. Meyakinkan bahwa itu semua tidak penting, bahkan tidak perlu dimiliki. Gadget salah satunya, luar biasa memabukkan buatku barang yang satu ini. Mungkin aku salah satu gadget mania, damn!! Betapa sering kali uang ini terbuang banyak untuk benda satu ini. Belum lagi pulsa yang dikeluarkan.. Sebenarnya semua gadget yang kumiliki tak satupun benar-benar kubutuhkan. Bahkan ke tiganya punya fungsi sama. Jadi sangat sadar jika percuma juga gonta ganti bahkan nambah gadget. Mending buka counter aja sekalian, atau bisnis jual beli hape bekas.. Padahal jika mau jujur, beli gadget baru itu pasti merugi jika akan dijual lagi. Bahkan kelakuanku satu ini

Firasat..

Sabtu pagi sebelum kuberangkat kerja, tiba-tiba Bapak minta dicukur botak, dipotong kukunya, dipotong kumisnya, jenggot, dan juga minta dimandikan. Biar bersih katanya, saat mendengar permintaan tersebut sontak dada ini berdesir gak karuan... Apakah ini firasat? Atokah ini permintaan terakhir? Ya Allah.. Kuatkan aku.... Minggu pagi kumulai satu persatu permintaan Bapak. Pertama-tama kuku-kuku yang panjang kubereskan, baru kemudian mempersiapkan segala hal untuk memotong rambutnya. Sengaja potong rambutnya belakangan, supaya Bapak tidak terlalu lama kedinginan jika sudah dibotakin. Bahkan sebelum memotong kukunya, air mulai kumasak dengan api kecil, dengan harapan bisa masak berbarengan dengan proses penggundulannya nanti. Se sederhana itu pemikiranku. Agar beliau tidak menggigil.. Cliper sudah kusiapkan dan siap membuang semua rambut Bapak seperti yang beliau inginkan. Sengaja aku percepat seluruh proses pembersihannya, lagi-lagi mengingat cuaca hujan di Jogja, masih teringat bebe

Bersama Sobat2 Terkasih....

Gambar

Universitas Alam Raya..

Selalu ada nasehat luar biasa yang kerap singgah bagi siapapun, kalimat sakti tersebut adalah "yakinlah akan ada hikmah dari sebuah kejadian, meski kejadian yang buruk sekalipun". Kembali lagi kepada kita, mau atau tidak untuk belajar arti hikmah yang tekandung di dalam setiap peristiwa tersebut. Merenungi perjalanan hidupku, kurasa Tahun-Tahun terakhir ini adalah Tahun yang luar biasa berat bagiku, namun juga Tahun yang penuh dengan pembelajaran hidup yang luar biasa. Bukan suatu hal yang mudah saat awal harus melaluinya, namun kembali lagi saat mau sedikit menundukkan diri, menjalani, memahami tiap peristiwa, dan berpikiran baik kepada Sang Pencipta, maka kebaikan yang luar biasa yang di dapatkan. Subhanallah... Jika masa SMA-ku harus kulakoni sebagai loper koran sebelum ke sekolah, betapa hari yang sangat melelahkan untuk berbagi waktu. Namun sekarang justru aku merasa itu waktu yang indah, sangat indah... Pagi saat semua orang masih terlelap dalam mimpi, aku sudah ha

Selalu Ada Ilmu Dalam Setiap Kejadian

Peranan menjadi Ayah untuk Bapakku harus kujalani sekarang, bukan hanya sekedar urusan merawat beliau namun juga berhubungan dengan masalah kemasyarakatan. Jujur sejak dulu aku kurang begitu antusias dengan acara sosialisai di kampung. Pengalaman dimana kami menjadi kontraktor (pindah-pindah rumah kontrak), membuatku selalu kurang nyaman untuk sekedar kumpul-kumpul dengan warga sekitar. Sadar bahwa manusia adalah makhluk sosial yang harus bermasyarkat, namun bukan serta merta membuatku bisa mudah masuk di dalamnya. Perasaan canggung selalu meliputiku. Dimana menjadi warga baru itu selalu menjadi sorotan.. Kegiatan warga, terkadang membuat kaki ini enggan melangkah. Kaku, dan kurang nyaman. Berasa semua mata memandang padaku. Yakin bahwa itu semua hanya perasaan lebay yang ada di otakku. Pelajaran demi pelajaran hidup kini memaksaku untuk mau menjalani ini semua. Bahkan mungkin ini adalah hal terbaik yang harus kujalani. Andai dari dulu bisa mau lebih bisa menikmatinya. Perasaan tid

Ujian Baru..

Seringkali jika mendapatkan hal baru yang tidak mengenakkan maka dengan cepat aku membangun benteng penolakan tanpa mempertimbangkan hal lain. Padahal terkadang hal baru tersebut adalah suatu ilmu... Kondisi Bapak semakin lemah, hal tersebut diperparah dengan makannya yang makin sedikit. Memaklumi semua hal tersebut adalah bagian dari jalan hidup Bapak dan ketentuan dari Allah SWT. Semakin hari aktifitasnya makin sedikit. Jika kemarin Bapak masih bisa tuk sekedar bangun, dan menggerakkan badan menuju kursi kakusnya, sekarang hal itu menjadi persoalan yang tidak mudah baginya. Hari-hari yang dilaluinya harus diberi bantuan, meskipun hanya untuk sekedar bangun duduk. Semua hal tersebut makin berat ditambah dengan kepikunan yang dialaminya. Betapa malam-malamku kini sering menjadi malam panjang penuh dengan ujian kesabaran. Beberapa kali terjaga dari tidur tuk bergegas di kamarnya, saat mendengar panggilan dari teriakan yang keluar dari suara Bapak yang lebih mirip erangan... Minta ma

Ompol...

Menurutmu Hukum Karma itu ada tidak? Menurutku bukan Karma, tapi aku lebih percaya bahwa semua hal yang telah kita tanam, suatu saat nanti akan kita panen, kebaikan ataupun keburukan. Kira-kira begitu. Sejak kecil aku itu jago ngompol, maka sebenarnya tidak begitu kaget dengan ponakanku (Raka) yang juga mengikuti jejakku. Atay mungkin ciri-ciri orang sukses itu harus ngompolan, haaaaaaaaaaaaaa*PLAKKK!! Sejak orang tua kandungku meninggal, aku beberapa kali ikut orang. Dari saudara dekat, saudara jauh, sampai akhirnya diadopsi oleh yang bukan saudara sama sekali. Satu hal yang tidak pernah aku lupakan ya itu tadi, ngompolan!! Berbagai cara sudah dilakukan, semua perintah aku turuti, dari yang meminimaliskan guyon menjelang malam, pipis sebelum tidur, sampai kaki ditaruh diatas, dengan harapan ya biar gak ngompol. Tapi tetep saja, dimanapun, dan kapanpun ngompol!! *heran juga ya, cara-cara gak jelas gitu emang bisa membuat tidak ngompol? Hihihi.. Biasanya ritual ngompol itu dialami

Do'a Yang Ajaib....

Aku memang bukan bukan orang yang religius seperti kebanyakan kawan-kawanku, tapi bukan berarti aku tidak memiliki keyakinan. Aku memiliki cara sendiri saat beribadah, dan seringkali berdo'a dengan gaya yang unik. Bagiku do'a itu bukanlah sekedar acting saat memohon kepada Sang Maha Kuasa, namun do'a seringkali justru waktu paling romantis buatku untuk curhat, bahkan guyonan kepada Allah SWT. Seringkali aku menempatkan diri sebagai anak-Nya. Terdengar aneh gak? Saat kecil, berhubung aku "terpisah" dengan kakak-kakak kandung, aku sering berdo'a agar diberi sayap. Jelas itu do'a yang paling aneh kulakukan, maklum namanya juga anak-anak, keinginanku hanya agar bisa terbang ke rumah paman, tuk sekedar berkumpul dan bermain sebentar dengan kakak-kakakku. Sebagai anak angkat yang tinggal sendiri di rumah, sering rasa kesepian dan kangen itu timbul, dikarenakan terbiasa ramai dengan ke 4 kakakku. Ikut orang tua asuh pada awal pertama itu, bagaikan bertemu deng

Sakit vs sakit

Hal yang paling menyenangkan saat sakit adalah memanjakan diri dengan tidak melakukan banyak aktifitas, cukup rehat, dan memakan semua hal yang diinginkan. Tidur dengan leluasa dalam waktu sebanyak banyaknya.. Pertanyaan muncul saat aku sakit dan juga Bapak sakit.. Artinya, bagaimana aku harus cerdik mensiasati merawat Bapak dan juga menjaga kondisiku sendiri. Entah karena seringnya begadang pada malam-malamku akhir-akhir ini, entah aku kecapekan akan rutinitas, entah apapun. Yang jelas akhirnya aku harus mengucapkan selamat datang wahai sakit. Alhamdulillah bukan penyakit lama-ku yang kambuh. Namun yang namanya flu bagiku sangat menyiksa, bagaimana permulaan dengan seluruh badan berasa ngilu dan sakit, kemudian demam menjadi kawan baiknya, dan akhirnya meler serta bersin memperindah penampilan semuanya. Komplit layaknya mie ayam bakso urat kesukaanku. Musim hujan di Bulan ini semakin membuat dramatis keadaan kami, mungkin saking dinginnya sehingga Bapak mulai sering ngompol. Aw

Yakin Mulutmu Harimaumu??

Pernah mendegar pepatah "mulutmu adalah harimaumu" ? Secara arti umum aku memahaminya, tapi terkadang otak koplakku suka bertanya, apakah arti sesungguhnya kata tersebut? Mungkin seseorang yang berbicara lantang pada suatu pagi tanpa gosok gigi, sehingga mengeluarkan aroma mulut yang tak sedap layaknya harimau makan bangkai tikus. *sajak selo uripe, mikir macan ra sikatan, hadahhhhh.... Sejak kecil aku gemar membaca buku, novel, majalah (tapi bukan buku pelajaran, harap digaris bawahi, jika perlu tebalkan dengan stabilo ijo pupus). Bagiku buku itu membuka imajinasiku melayang kemanapun aku ingin tuju. Oleh sebab itu, sering kali kurang sreg saat buku atau novel karya penulis hebat, menjadi bestseller dan kemudian dipindahkan menjadi Film. Alasanku karena lebih pada saat melihat film, merasa digiring kepada gambar bergerak dengan tampilan yang sudah ada, sehingga imajinasiku akan tempat terkadang tidak se "wow" dengan hasil sebuah gambar di film. Derita itu dita

Bukan Cerita Cabul 2..

Tiba-tiba ingin menulis pengalamanku yang telah begitu lama, namun masih cukup membekas ini. Seringnya orang mengeluh akan beratnya suatu beban yang harus dijalani dalam hidup ini, dan mudah sekali hilang keluhan tersebut saat melihat penderitaan seseorang yang dinilai lebih berat. Tapi mungkinkan yang kita anggap berat bagi orang lain, dia juga merasa berat? Bagaimana jika dia justru bisa menikmatinya, bahkan bisa mensyukurinya? Dulu aku memiliki kebiasaan buruk saat terjaga tengah malam. Seringnya terlelap dalam tidur tanpa mimpi dan juga gangguan, begitu terjaga langsung susah tidur. Jika sudah begini satu-satunya cara adalah keluar rumah, mencari udara segar. Biasanya kantuk kembali datang disaat badan sudah merasa nyaman hanya dengan tertiup angin. Aneh ya? Serahhlahhhh... Pernah suatu ketika jam 2 pagi terbangun hanya karena suara kucing berantem diatas kamarku, yang kebetulan kamarku pas talang air. Bahan talang yang terbuat dari seng membuat suara luar biasa berisik dengan

Warna warni.. (masih seputar Bapak).

Beberapa orang bertanya tentang bagaimana merubah pola pikirku dalam mensikapi Bapak yang sudah sepuh, ada juga yang kurang setuju dengan caraku memperlakukan beliau. Apapun itu aku apresiasi dengan baik semua komentar yang masuk pada blogku ini. Terima kasih sudah mau membacanya. Aku memang tidak paham akan ilmu psikologi, atau hal sejenisnya. Yang kulakukan kepada Orang Tuaku saat ini (terutama Bapak, karena Ibu sudah meninggal), hanyalah mengamati perilaku keseharian beliau. Jika ditanya letak merubah pola pikir kita yang lebih muda dimananya? Sekali lagi itu hanyalah tindakan yang kulakukan sehari-hari akhir-akhir ini. Aslinya, aku orang yang jijikan. Bahkan awal pertama merawat mereka selalu berasa mau pingsan saat harus membersihkan kotoran dan sebagainya. Jika pola pikirku masih sama, mungkin sampai detik ini semua itu menjadi penderitaan. Namun kembali lagi pola pikirku yang kurubah, menerima bahwasanya justru dengan masih mengeluarkannya kotoran yang dilakukan Bapak, artinya

Lagu yang sederhana, tetapi dalam banget...

Watch "Renungan-Didi Mirhard" on YouTube

Sales itu..

Pernahkah memperhatikan penampilan dan gaya seorang sales? Baik itu Sales Promotion Girl ataupun Sales biasa. Dulu, aku mengira pekerjaan yang satu ini adalah pekerjaan yang gak penting banget, bahkan bagi sebagian orang mungkin masih memandang begitu, bagaimana dengan kamu? *Quis ra penting, sah dijawab! Padahal ternyata sales itu ujung tombak terpenting bagi usaha dagang. Dari berbagai macam sales, yang paling menarik perhatianku adalah SPG rokok, dimana biasanya gaya dandannya enak dilihat, ramah, dan litle bit bitchy, pokoknya suka aja. Tapi bukan berarti aku beli product rokok yang ditawarkan lho. Pernah suatu ketika saat di rumah makan, lagi asyik-asyiknya menikmati hidangan makan malamku ditemani lilin dan musik yang mengalun lembut (halahhhh sok ngopooooo jiallll?) datanglah mbak-mbak SPG Rokok menawarkan dagangannya. Mereka berkelompok dan dikawal seorang Supervisor-nya. Melihat logo Malboro di bajunya, spontak kutolak kehadiran si SPG tersebut, karena rokokku Dunhil, dan s

Batal Hangout..

Gini ini jika terlalu mengandalkan yang namanya tekhnologi. Sering kali piranti yang ngakunya canggih justru membuat GJ (gakkkk jelasssss). Sabtu kemarin (via pesan singkat Blackberry Masangger) ada beberapa kawan (ex.SMP)  ngajakin hangout sekedar ngelepas stress dengan ber-karaoke. Aku sanggupin ajakan itu, toh seluruh dunia juga tau kalo suaraku bagus *huekssss, tapi dengan catatan tidak hujan. Sebenarnya Minggu ini ada juga kawan lain yang ngajak temu kangen, berhubung hujan sedari sore, maka ajakan temu kangen ini batal. Ya gini deh public figure banyak yang ngajak jalan. (Atau karena mereka kasian dengan ke-jombloanku, sehingga aku diajakin jalan ya? Bisa jadi bisa jadi....). Kembali ke acara hangout. Saatnya peran tekhnologi bermain, jam  6 sore sang pemilik gawe (Heru) mulai memastikan kembali untuk berkumpul dengan saling mengirim kabar via BBM, intinya jika waktu memungkinkan kumpul di Counter seorang kawan, yang kebetulan buka di Jogjatronik dimana tempat karaoke berada

Selimut usang Bapak...

Terkadang tanpa menyadarinya, bahwa barang yang tidak terpakai (atau hanya tersimpan), memiliki arti lebih bagi orang lain yang membutuhkan, bahkan keluarga. Setidaknya ini pengalamanku hari ini. Pernah kuceritakan betapa rumah dulu penuh dengan berbagai piranti pecah belah yang alm.Ibu kumpulkan. Aku masih ingat, terkadang barang-barang tersebut didapatkan beliau dengan cara arisan. Hasilnya sekarang aku yang sering mempergunakannya. Alasan beliau kenapa banyak menyimpan barang-barang pecah belah yang menurutku hanya nyusuh belaka adalah : konon jaman dulu, suatu rumah tangga itu seyogyanya memiliki beberapa barang pecah belah, dengan harapan suatu saat nanti jika memiliki hajat, tidak perlu merepotkan dengan meminjam kemana-mana. Hal tersebut tentu saja dikarenakan tidak seperti jaman sekarang yang dengan mudah menemukan jasa pinjam peralatan. Cukup masuk akal.. Hari Minggu ini seperti biasa kumulai dengan memandikan Bapak. Jujur mata ini masih teramat kantuk, disebabkan Bapak y

Statusku...

Beberapa kali ada kawan mengirim pesan dengan berbagai macam hal. Awal kalimat sapa selalu dengan basa-basi indah, dan diakhiri dengan keluhan akan banyak hal. Semua itu bagiku manusiawi. Ada beberapa yang merasa lelah karena kerjaanya, terkadang berpikir, bukankah lebih lelah saat mencari pekerjaan? Bukankah kita bekerja itu demi gaji atau upah hasil dari lelah? Atau memang ada pekerjaan du dunia ini yang dilakukan tanpa harus lelah? Mungkin banyak orang menilaiku hanya dari wall-ku yang penuh dengan fotoku ceria habis, seolah tanpa masalah. Saat ada pujian seperti itu anggap saja suatu do'a, sehingga cukup di-amin-kan. Namun tahukan kamu bahwa aku ini manusia biasa yang terkadang sedih bahkan meng-galau-gilak *cieeee bahasakuuuu... Memang tidak banyak yang bisa memahami saat aku menuliskan status di Facebook-ku, jangankan teman biasa, bahkan kawan terdekatpun sering kali tidak paham akan situasi tersebut. Prinsipku adalah, terkadang kesedihan itu bisa menjadi hal yang menggem

Di suatu pagi Bapak...

Dalam banyak tulisan dan kajian tentang menjelang kematian, disitu kubaca tentang akan datang gerombolan syetan dan jin untuk menyesatkan orang yang akan meninggal, agar meinggalkan Aqidah dan berpaling dari Allah SWT. Aku meyakini akan hal tersebut, karena memang hal itu diajarkan dalam Islam, semoga kita nanti akan kembali kepada-Nya tetap dalam keadaan Muslim, Amien Ya Rabb.. Selasa, 12 November 2013 Pagi itu seperti biasa rutinitas kuawali dengan menyiapkan secangkir susu hangat untuk Bapak, tuk sesudahnya Bapak mandi. Hal tersebut kulakukan agar Bapak tidak kedinginan, walaupun hanya mandi di kamar dengan washlap akan tetapi dengan kondisi kesehatannya hawa dingin acapkali cukup mengganggunya. Sengaja aku tidak membantu Bapak saat harus berpindah posisi dari dipan-nya ke kursi toilet, berharap agar raganya tetap bergerak. Sambil memangku ember kecil, acara mandi pagi dimulai dengan gosok gigi (tepatnya gosok gusi hehehe). Kemudian saatnya aku mandikan Bapak dengan washlap sete

Si Shiro...

Seringkali saat membeli suatu barang dalam keadaan emosy hasilnya adalah barang yang tidak begitu dibutuhkan yang terbeli, atau barang yang kurang sesuai yang didapat. Benar begitu? Sepertinya rumus itu berlaku buatku, sangat berlaku malah hehehehe... Jika itu barang yang kecil mungkin tidak jadi masalah, bisa saja dibeli karena "lucu", tanpa memikirkan faktor kebutuhan, atau pas ada sale, sehingga berpikir mungkin suatu saat nanti bisa digunakan, pertanyaanya adalah, suatu saat itu kapannn?? Bisa jadi pas akan dipakai sudah tidak layak fungsi, baeklahhhh.. *plakkkkk gampar diri sendiri Hari ini giliran Shiro, motor Honda CB 150 R-ku saatnya servis, awal membeli motor satu ini karena faktor "suka" karena motor sport berwarna putih kan jarang, jadilah ikut indent dalam waktu Seminggu. Sampai di rumah kala itu bulan Desember 2013, pas banget musim hujan.. Bangga bisa mengendarai motor yang belum banyak bersliweran di Jogja, udah gitu musim hujan lagi. Bangga kan!

Ibadahku...

Pernah gak berpikir jika kita berdoa pasti berharap apa yang kita panjatkan untuk dikabulkan, bahkan terkadang memaksa untuk segera dikabulkan. Jika memungkinkan saat itu juga terkabul... *maksa banget euyyyy.. Hari ini sengaja aku pulang cepat, mengingat kejadian tadi pagi Bapak yang tiba-tiba "nganeh-anehi" membuatku gak nyaman dan gak tenang kerja, beruntung kerjaan kantor bisa kukerjakan dirumah. Jadi untuk perkara satu itu gak masalah. Pulang pas Adzan Dhuhur, sesampai dirumah langsung menuju kamar Bapak. Alhamdulillah Bapak baik-baik saja, beliau sedang pipis di kursi toiletnya. Kusiapkan menu makan siang untuknya, dan juga obat. Lega rasanya saat makan siangnya disantap habis, lega rasanya ketika tadi kutinggal kerja Bapak tidak kenapa-kenapa, Allah SWT menjaga bapakku. Bukannya langsung ambil wudlu dan sholat Dzuhur tuk berterimakasih, aku malah ambil nasi. Perut keronconganku sudah tidak bisa diajak kompromi. Kelar makan, diakhiri dengan kebiasaan buruk, alih-al

Terjaga..

Dan malam ini aku terjaga, bedanya jika malam-malam sebelumnya mendengar suara lirih Bapak dalam tidurnya, ataupun panggilan karena meminta bantuan, kali ini suara berderak. Sontak pikiran ini tertuju ke kamar Bapak, bergegas menuju kesana, dan berharap tidak terjadi apa-apa. Gelap kamar Bapak membuat mata ini harus menyesuaikan sebentar tuk dapat melihat dalam gelap, namun karena sudah sangat hapal dengan situasi kamar beliau, tidak sulit untuk sekedar menemukan saklar lampu. Bapak sudah berada di lantai, tepat di celah antara tempat tidur dan meja dimana terletak radio, dan juga meja dimana biasa kusiapkan hidangan makannya. Kembali aku diuji, bukan tentang kesabaran, namun lebih tentang bagaimana memberikan saran kepada Bapak dengan sehalus mungkin, jika aku sebut nasehat, rasanya kata itu terlalu tinggi dan tidak pas jika dilakukan seorang anak kepada Bapak. Seperti yang pernah kutulis dalam Blog ini juga, sudah saatnya aku yang merubah pola pikirku, dan harus bisa menyesuaikan

Jus Buah...

Suatu ketika aku memiliki keinginan untuk belajar memasak, tapi hal tersebut gagal dan tidak jadi terealisasikan dengan semestinya. Muales yang namanya membersihkan  barang pecah belah yang kotor semua akibat dari acara memasak, padahal waktu itu sudah sampai ke toko elektronik untuk memilih antara oven atau microwave. Sudah merepotkan beberapa kawan dengan pertanyaan tentang fungsi dari kedua benda kotak itu, bukanya milih salah satunya, pilihan jatuh pada blander malahan.. *blasss ra nyambung.. Pertimbanganku sederhana saja, akhirnya memilih blender karena aku suka buah, tapi kurang suka mengunyah. Sepertinya bangun tidur siang membuat jus buah segar sekali rasanya. Itu idealismeku saat itu.. Benar saja, Hal yang paling segar adalah bangun tidur siang, ditemani segelas jus buah dan sedikit camilan, sambil bermalasan di depan TV. Tsahhhhhh!! What a wonderful life.... Hari ini entah mengapa, aku tidak semangat untuk ngapa-ngapain. Serasa energiku hilang entah kemana, jiwa dinamis

Bapakku (lagi...)

Kondisi fisik seseorang berbeda satu dengan yang lainnya. Ambil contoh Big Boss-ku, beliau sudah 82 tahun, akan tetapi secara fisik masih cukup mengagumkan. Fisiknya masih terlihat kuat, daya ingatnya masih bagus, walaupun indera pendegaranya mulai berkurang. Aktifitas senam dan juga yoga masih sering beliau jalani, dan itu salah satu aktifitas yang membuatnya terlihat bugar, untuk masalah kepikunan, aktifitas membaca yang sering beliau jalanilah yang mempertahankan daya ingatnya. Berbalik dengan Bapakku, berbeda 10 tahun dari Big Boss, Bapak terlihat sangat renta. Bapak yang dahulu kalo berbicara lantang, suaranya semakin lirih, saking lirihnya sering kali aku terlambat ke kamarnya, saat malam dia memanggil namaku yang sudah terlelap dalam tidur. Begitulah akhir-akhir ini, raga rentanya sepertinya sudah lelah menyangga tubuhnya. Sering kali untuk sekedar bangun alih-alih mau duduk bukan perkara mudah baginya. Bahkan sering kali karena kondisinya, untuk menuju kursi toilet sekedar pi

Kelompok tari itu bernama Bala Maharddhika

Keinginanku menekuni dunia tari begitu kuat, mungkin almarhumah Ibu kandungku begitu deras mengucurkan darah seni tarinya padaku, sehingga aku sangat menyukai dunia seni tari. Dari sanggar Bagong Kusudiharjo sampai dengan Natya Lashkita tempat mas Didik N.T, pernah kuikuti jaman kanak-kanakku dulu. Bahkan Oom pernah menyarankan untuk ikut bergabung di Among Bekso. Masuk SMP kegiatan tari mulai sedikit dilarang oleh orang tua angkatku, tapi tetap saja tidak menyurutkan keinginan untuk menari. Jaman SMP dulu, tari modern mulai marak, beberapa kelompok tari bermunculan, salah satunya kelompok tari Bala Maharddhika. Berhubung larangan untuk menari yang sangat kuat, maka hanya saat-saat tertentu saja bakat tari kusalurkan, namun impianku masuk kelompok tari tersebut selalu ada... Bertambah usia, dinamika hidup, dan dinamis seni mulai kurasakan. Suatu ketika saat jalan kaki berangkat ke sekolah (kelas 1 SMEA N 3 Gowongan), tanpa sengaja menemukan selebaran untuk masuk pada kelompo