Postingan

Menampilkan postingan dari 2012

SOMBONG itu UNIVERSAL

Mbak Yah dan Mbak Mul adalah dua bersaudara, keduanya kakak beradik namun memiliki sifat yang bertolak belakang, MBak Yah pribadi yang keras dan sombong, sedangkan Mbak Mul lebih kalem dan rendah hati, bahkan terkadang rendah diri. Kesamaan dari kedua orang bersaudara ini adalah memiliki sifat pekerja keras, dan juga pekerjaan yang sama pekerja rumah tangga (pembantu). Mereka sudah berumah tangga, Mbak Yah bersuamikan kuli bangunan, sedangkan Mbak Mul bersuamikan tukang becak.  Mbak Yah dikaruniai 2 orang anak, Mbak Mul 1 orang anak. Di lahan kosong pinggir sebuah perumahan mereka mendirikan bangunan bersebelahan. Meskipun hidup di garis ekonomi tergolong susah, kakak beradik ini sering bersinggungan dengan yang namanya KDRT, dimana sang kakak Mbak Yah sering menganiaya adiknya dengan kata-kata pedas yang bisa menusuk dada sampai ke ujung jantung, demikianlah kejamnya kata (cieh…). Selalu ada kesombongan yang diceritakan oleh Mbak Yah pada adiknya, pernah suatu kali dia membanggakan

AKU VS LATAH

Sebelum menikah, mbakyuku bekerja sebagai akunting di suatu toko buku. Semasa itu aku sering mengantarnya berangkat dan menjempunya pulang kerja. Maklum pacarnya kerja di Jakarta waktu itu. Mbakyuku ini punya kebiasaan latah juga (walaupun tidak separah si Piter). Dalam keadaan kaget banget, kalimat yang sering keluar dari mulut manisnya adalah “E.. Jaran”. Aku juga tidak tau kenapa dia juga bisa latah, entah karena mengikuti trand yang saat itu latah, atau karena tertular latah dari simbok-nya, Allahualam … Kalimat paswordnya itu sering memancing ketawaku tatkala dia ucapkan, kembali lagi selalu membuatku bersemangat untuk me-latahinya dari waktu ke waktu. Lumayan dapat hiburan gratis.. Pagi jam 7.30 biasanya aku sudah stand by untuk berangkat kerja, tentu seperti yang kubilang sebelumnya, aku mengantarnya ke tempat kerjanya. Tempat kerja mbakyuku di seputaran Malioboro. Jam-jam segeto belum begitu ramai. Perjalanan dari rumah menuju Toko-nya paling lama 20 menit, di setiap perjalan

PITER = PETRUK

Teman yang satu ini pertama kali kukenal saat kuikuti suatu kelompok tari di daerah Jl. Kaliurang (sayangnya sudah bubar sekarang). Orangnya “ abstrak ”, perawakan kurus dan bermuka Arab. Namanya Piter, berhubung hidungnya Subhanallah mancung banget dan tidak pas dimukanya, sering kali orang memanggilnya Petruk. Petruk ini mudah bergaul dan supel, untuk urusan teman dia sangat loyal. Salah satu contoh ke-loyalannya adalah ketika akhir Bulan duit sudah pas-pasan dan kami sebagai temanya kelaparan, dia akan sangat senang sekali mentraktir di Warung Burjo “ Pasundan ” langganannya. Jangan berpikir dia kaya lho, hidupnya juga pas-pasan sebenarnya, dan ternyata aku tau kalo di Pasundan inipun dia kerap ngutang (termasuk traktiran kami waktu itu kayaknya..hahaha). Petruk suka tampil di semua acara, tingkahnya konyol, ekspresinya jenaka, dan ciri khasnya yang kuat adalah super duper latah. Kelatahanya keluar kali pertama disaat kami semua diberi arahan koreografer pada sebuah tarian, tiba-

PENARI

Sedari kecil aku terbiasa dengan dunia seni, maklumlah mendiang ibu adalah seorang seniwati, beliau dulu ikut Kelompok Kethoprak “SAPTA MANDALA”. Masih ingat aku yang masih kecil dibawa Ibu berangkat dari panggung ke panggung. Ibu selain pandai menari juga pinter nembang dan nyinden. Kami anak-anaknya sayangnya tidak satupun yang secara “serius” menekuni jejak Ibu almarhum. Umur 6 tahun, aku diadopsi oleh suatu keluarga yang tidak memiliki anak, waktu itu aku tidak punya pilihan lain kecuali manut dipisahkan dari kakak-kakakku. Hal ini terjadi pasca meninggalnya Ibu-ku. Bapak telah lama mendahului Ibu ketika aku bisa merangkak (itu informasi yang kudapatkan dari adik bapak dan ibu yang mengasuh kami). Faktor ekonomi adalah alasan utama kenapa aku harus diadopsi keluarga lain, Pamanku hanya sebagai karyawan golongan rendah di suatu Perguruan Tinggi Negri, pengahsilannya pas-pasan untuk dapat menunjang hidup mereka sendiri yang memiliki 2 orang anak, ditambah kami ber 4. Sehingga bisa

BAWAAN OROK

Sudah menjadi gayaku bahwa dimana tempat pasti “rame”, ada teman yang menyebutku gila, ada yang bilang berisik, dan ada yang ekstrim menyebutku cerewet. Saat-saat tertentu seringkali aku ingin berubah menjadi diam, tidak banyak cerita, cool, dan kalem. Tapi ternyata susye…. Hal tersebut diperparah apabila bertemu dengan kawan yang hobby ngajak diskusi. Dari ngomong politik sampai agama ayukkk… Bicara music sampai ngomongin daster pembantu sebelah mariiiiii!! Pokoknya komplit plit plit. Gaya bicaraku yang blak-blakan membuat kebanyakan teman “nyaman” bercerita bahkan hanya sekedar ngomong yang tidak penting. Ada juga beberapa kawan yang menyebutku provokator , katanya aku seringkali memancing orang untuk melakukan hal-hal tertentu. Nah kalo sudah begini gimana donk?? Padahal swear aku tidak pernah bermaksud mem- provokatori seseoranmg untuk doing something , yang ada biasanya cuman ngomporin doank.. hahahaha sama saja ya!!?? Hal itu juga berlaku di keluarga besarku, banyak hal ya

KASIHAN VS KEBAHAGIAAN

    Kakakku yang pertama bersuamikan seorang sales yang bergerak di bidang lampu penerangan, dia adalah sosok gila kerja. Untuk masalah kerja jangan ditanya betapa dia sangat luar biasa gila.... Namun kegilaanya ini berbuah sebuah rumah yang cukup baik, menyusul kemudian mampu menyewa sebuah toko. Tidak jauh dari kesibukan dan kerjaanya, toko inipun menyediakan peralatan listrik. Dari urusan kabel sampai dengan segala macam tetek dan bengek perlampuan. Intinya dunia lampu dan perlistrikan.    Kakak ke-duaku lain lagi, dia suka berjualan pakaian, semasa gadis dia sudah sering melakoni pekerjaan ini, katanya pendapatannya lumayan. Itu menurut pendapat dia, tapi kalo menurutku sering makan ati, bukannya kenapa-kenapa, sering kali aku tau ada beberapa yang tidak bayar. Maklum kakak ke-duaku berjualan dengan sistem kredit. Dia melakoni usaha ini luar biasa telaten.    Pada akhir Tahun 2011 yang lalu, aku memberikan ide untuk join dengan kakak pertama di kiosnya., namun dengan jualan yang b

POLAH PECINTA

               Hal yang paling aku suka adalah ketika ada teman yang curhat tentang perasaan cintanya dengan seseorang, bukan tentang curhatan lebay-nya yang membuat aku suka, akan tetapi polahnya ketika sedang dimabuk cinta.                 Sama halnya yang terjadi dengan Rama, sebenarnya dia tidak tampan, akan tetapi mungkin memiliki sisi menarik bagi seorang Shinta. Pada dasarnya Rama adalah sosok yang senang berkawan dengan siapapun, dia suka sekali diajak sharing bahkan curhatan. Anaknya supel dan care dengan siapapun, salah satunya dengan Shinta.                 Pada awal bertemu Rama, Shinta tidak begitu suka dengan kelakukan Rama, ini disebabkan siapapun yang kali pertama melihat sosok Rama adalah pribadi yang kurang menyenangkan. Berwajah jutek, dan kalo ngomong kadang pedas, maklum sosok Rama suka blak-blakan jika berbicara. Namun di perjalanan waktu, entah kejadian ajaib apa yang akhirnya membuat Shinta tergila-gila padanya.                 Sering kali Shinta berupaya menar

AKU , DIA, dan DIRINYA

       Seorang kawan pernah bercerita pernah membaca pepatah China yang mengatakan “ Jodoh itu membingungkan, disaat sedang jomblo, seakan semua pintu tertutup rapat, sehingga tidak satupun yang bisa ditemui, disaat sudah memiliki pasangan seolah pintu terbuka lebar, sehingga banyak jodoh-jodoh lain yang berdatangan lagi…” Boleh percaya, boleh tidak, itu kata kawanku.                 Pribadi yang baik, menyenangkan, sedikit angkuh dan juga “smart” adalah sosok idamanku. Dalam urusan percintaan, hubunganku tidak begitu mulus. Selalu berliku dan penuh drama. Hingga suatu ketika waktu dan saat yang tepat mempertemukanku dengan  Dia.                Bagiku, Dia adalah sosok yang menyenangkan, santun, rapi, smart, dan yang pasti tidak malu-malu-in ketika diajak jalan jalan ke Mall-lah. Pertama kali kenal perasaan yang timbul adalah kagum, kami sering berdiskusi tentang banyak hal. Dan itu membuat kekagumanku berubah menjadi simpatik, dan kemudian timbul rasa sayang, berakhir dengan cinta.

DOKTER KULITKU

Tiap kali akan mengeluarkan bulu, seringkali kulitku iritasi, kali ini iritasi yang diderita kulit bagian betis kiri cukup dahsyat. Iritasi yang awalnya berupa benjolan, lama-lama berubah menjadi bisul. Bisul yang pada awalnya tidak begitu mengganggu, lama kelamaan cukup besar dan membuat risih juga. Kalo sudah begini pasti aku berusaha menjadi dokter bedah yang sok ahli. Dan sim salabim... kuoperasi sendiri kakiku dengan memencet bisul yang membuat risih tersebut dan.... Darah keluar dari sana. Berhubung bukan kali pertama aku melakukan rutinitas tersebut, maka kupikir biasa-biasa saja, karena memang biasanya kalo sudah aku pencet sedikit, pori-pori terbuka, dan menyembul bulunya dengan dihiasi darah pastin. Dan untuk kasus yang inipun sebenarnya sama ..Yess Yippyyy!!! 2 Minggu dari pasca pengoperasian tersebut, ternyata bisulnya justru tambah besar dan berdarah. Nah kalo sudah gini baru merasa percaya bahwa memang tidak selaknya menjadi dokter bedah sok tau.. Berdasarkan informasi

LOPER KORAN

Setelah sholat Subuh biasanya aku rutin sepedaan (ini berlaku jika bangun tidak kesiangan, tidak hujan, dan tidak malas hehehe).  Seperti pagi itu, selesai rutinitas pagi kusiapkan sepeda, menggunakan bicyclepants , kaos tangan, sepatu kets. Pasang Handsfree music Bluetoth, kacamata terpasang dan siap mengitari jalan –jalan di Jogja. Keluar dari rumah aku susuri jalan Magelang kearah Selatan, sebelum di pertigaan Borobudur Plaza lajuku sedikit pelan, ini dikarenakan adanya Pasar Tiban  setiap pagi berisi penjual dan pembeli makanan kecil.  Sepeda kembali laju begitu melewati Pasar tersebut. Traficlight pada pagi hari kurang berfungsi, sering kali aku trobos (mohon jangan ditiru), sampai di perempatan Pingit aku arahkan ke kiri (Maaf aku hanya tau kiri, kanan, Utara dan, Selatan), lurus sampai perempatan Tugu,  sampai di perempatan Gramedia belok ke Utara menuju arah UGM. Di depan RS. Panti Rapih sebuah sepeda melaju kencang mendahuluiku. Lelaki berusia belasan tahun berseragam puti

PIN BLACKBERRY

Suatu malam dosen Mata Kuliah menerangkan tentang Teknologi yang berkembang di masa sekarang, salah satu yang beliau sebut adalah ponsel. Berhubung beliau menggunakan product Samsung, maka product tersebutlah yang beliau banggakan. Dari fungsi ponsel sampai dengan teknologi yang disematkan beliau sampaikan dengan khatam. Sampai pada akhirnya menyebut product lain, “Saudara pasti tau dengan Blackberry-kan ??!!”. Beliau mulai mengajak para mahasiswa berdiskusi.  “Itu termasuk smart-phone, atau PC..??” “Dua-duanya Pak”, jawabku. Tanpa menggubris omonganku beliau melanjutkan “Nah Blackberry ini menurut saya adalah ponsel yang cerdas, namun saya heran dengan fenomena ponsel satu ini, kalo di Negara asalnya sana, benda ini digunakan untuk bisnis, tapi disini di Indonesia sebagai ajang menggosip”. Hufftttt lumayan panas, karena saat mata kulih itu berlangsung  aku duduk di depan, dan cukup panas juga karena aku menggunakan ponsel tersebut. “Yang lebih anehnya lagi, kalo jaman dulu PIN itu

PRIA PENGHIBUR

Siang itu ada sebuah pesan singkat yang cukup menggelitik. "Ang aku butuh kau menjadi penghiburku sekarang". Dari nomor yang cukup aku kenal dan akhir-akhir ini lumayan dekat dengan si empunya nomor. "Aku disuruh ngapain?" "Pls... Keluarkan guyonanmu, aku pengen dihibur..." Nah ini nih,bukan perkara mudah ketika berusaha menghibur orang, disaat jam kerja, ditambah tidak ketemu dengan orangnya. Masih ditambah pula bahwa orang yang minta dihibur ini sedang kronis Bad Mood nya. "Sik sebentar, kok kesannya kau benar-benar bete geto, ada apa?", aku berusaha mencari sebabnya dulu donk sebelum bisa becandain orang, gak mungkinlah aku keluarkan lelucon kalo ternyata malah membuat tambah bete  si customer ini. "Intinya gini, aku sedang dibuat jengkel dengan seseorang, dan dia mengeluarkan perkataan yang membuatku benar-benar tersinggung. Tapi kalo isinya bab apa, aku tidak perlu cerita, padahal bentar lagi aku sudah harus bersiap memberikan materi p

TANAH PETAKA II

Ada suatu kisah kembali tentang Hak Atas Tanah : Ayah berasal dari 4 bersaudara, ayah bungsu dalam susunan keluarganya. Semenjak kecil ayah ikut dan diasuh oleh Pakdhe dan Budhenya. Pakdhe dan Budhe waktu itu tidak memiliki anak, hingga Ayah dijadikan sebagai pancingan (kata orang Jawa).  Dan benar saja, setelah Ayah ikut mereka Pakdhe dan Budhe memperoleh keturunan, seorang anak lelaki (yang biasa dipanggil Pak-Lik), Ayah menikah dengan ibu, kemudian lahirlah Mbak dan Adik. Pak-Lik sendiri sampai akhir hayatnya belum sempat menikah.  Dikarenakan hanya ada Ayah dan Pak-Lik (dahuluan meninggal), maka kemudian sebelum Pakdhe dan Budhe meninggal hak atas tanah jatuh kepada Ayah. Kini setelah Ayah meninggal, tanah warisan yang tidak seberapa itu menjadi "memanas".  Ibu, Mbak, dan Adik yang selama ini tinggal dirumah yang berada pada tanah milik Ayah harus berurusan dengan Kakak-Kakakkandung ayah. Hal ini dikarenakan mereka menuntut agar diberi waris secara adil. Mbak seringkali

TANAH PETAKA I

Saat itu umurnya baru 17 Tahun ketika diajak oleh Bapak dan Simbok untuk bertemu dengan perangkat desa dan disuruh utnuk membubuhkan tanda tangan pada sebuah kertas yang berisi tulisan yang dia tidak berusaha mengetahui isinya. Dia gadis yang cukup lugu waktu itu. Waktu berlalu, sang gadis sudah tumbuh dewasa dan telah memiliki suami, tumbuh menjadi perempuan dewasa dan matang, Meskipun sudah berumah tangga, atas permintaan orangtuanya dia dan suami tetap tinggal di rumah yang telah ditempatinya sejak kecil. Rumah yang memberi arti dalam hidupnya.  Sebenarnya dia buka anak kandung dari Bapak dan Simbok, dia adalah anak tetangga. Semasa masih menjadi gadis kecil dia acap kali sakit-sakitan dan rewel ketika tinggal bersama kedua orang tua kandungnya, namun anehnya bila diasuh oleh Bapak dan Simbok dia berubah menjadi nurut dan manut. Dan itu berjalan cukup lama, sampai ayah dan ibu kandungnya memberinya 4 orang adik, dan dia benar-benar diasuh oleh Bapak dan Simbok. Demi sebuah pengab

Ala Cinderella

Beberapa waktu lalu ada seorang kawan yang berusaha mewujudkan mimpinya, dia punya impian menikah bak dongeng Cinderella, lengkap dengan gaun dan semua atribut mewah yang diimpikan.  Mendapatkan pria baik dan kaya adalah impian kawan saya tersebut. Seiring bertambahnya waktu, klasifikasi baik agaknya memudar, akan tetapi predikat kaya, gamblang dilihat. Dan akhirnya pria kaya-lah yang diputuskan untuk menjadi pendamping hidupnya. Kebaikan baru bisa dilihat kemudian dengan perjalannya waktu, begitu menurut pendapatnya. Tak berapa lama waktu pernikahan akan segera terlaksana, dari gaun sampai dengan kereta kencana modern disiapkan, istana megahpun disewa sebagai tempat melangsungkan mengikat janji. Semua disiapkan dengan detail yang benar-benar rinci. Hari, Tanggal, Bulan dan Tahun pelaksanaan itu akhirnya tiba.  Dekorasi pelaminan cukup mewah untuk golongan keluarga sekelasnya, dukup indah dan cukup menawan. Awesome !! Tak lama kemudian wajah kedua mempelai mulai nampak. Dan ajaib, b

TOPENG A/N CINTA

Menyaksikan iklan di media televisi, beberapa orang menggunakan atribut topeng sebagai tanda "kepalsuan"...  Well itu adalah iklan di media televisi, bagaimana dengan kehidupan yang asli? Suatu ketika aku mengunjungi kawan yang sedang terbaring sakit. Biasanya jika membezuk pasien sakit pasti akan terjadi percakapan basa basi lebay yang bermaksud untuk membangkitkan semangat si pasien. Namun tidak denganku, aku bukan type orang yang suka basa basi, aku berusaha share dengan pasien tersebut, berhubung kami dekat alhasil percakapan mengalir. Sosok perempuan yang kesehariannya tegar dan pekerja keras tersebut ternyata harus menyerah dengan sakit (tepatnya kumat). Hal ini dikarenakan dia pernah mengalaminya, dan dikarenakan kerjaan yang luar biasa melelahkan, tak kenal lelah, akhirnya dipaksa istirahat dalam sakit. Apa yang kau cari?? Bukan apa yang dicari ternyata, tapi berusaha mewujudkan mimpi dan cita citanya bersama belahan jiwanya. Dengan lupa istirahat? Dia bercerita bah