Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2014

Itulah Ayah...

Mendapat berita sedih sungguh seringkali membuat nyeri di dada. Seminggu lalu seorang kawan bercerita tentang Ibu-nya yang dirawat di RS Daerah karena sakit yang di deritanya. Tak lama berita itu menjadi lebih sedih lagi saat sang Ibunda akhirnya harus berpulang ke Rahmatullah... Cerita berlanjut... Tentang kesedihan seorang anak manusia yang ditinggalkan Ibunya. Sungguh aku sangat bisa merasakan kepiluan tersebut, karena aku juga belum lama baru bisa terima kenyataan bahwa Ibu meninggal. Semua berubah... Semua tidak sama... Sama halnya kisahku, sahabat satu inipun masih beruntung memiliki seorang Ayah. Hanya bedanya, Bapakku saat itu dalam kondisi sakit, sedangkan Ayahnya sehat wal afiat.. Takdir memang membawa kisah yang berbeda... Kesedihan yang dialaminya begitu mendalam, tentang betapa kehilangan moment-moment keseharian, dimana sang Bunda rajin menanyakan kondisi, jadwal bekerja, bahkan kesehatan. Semua itu kini hilang. Aku maklum, sangat maklum... Sampailah cerita ten

Arisan Tanggal 10 (sebuah memory Mami-ku..)

Pagi ini berencana setor tabungan ke BRI, maklum jika gaji terlalu lama di dompet artinya terlalu cepat menguap, padahal tagihan akan semakin cepat datang dan takut terabaikan hehehe.. BRI cabang yang biasa kudatangi adalah di daerah Jetis (depan Kranggan), sekalian jalan saat nebus DO di Mandiri Sudirman. Ternyata Bank tersebut sudah pindah di daerah P.Mangkubumi (sekarang bernama Jl. Margo Utomo). Tempat tersebut tidak begitu asing karena dulu kalo tidak salah bekas Optic . Masuk ruangan sejuk, mata ini melihat sesosok Ibu-Ibu yang sedang mengambil pensiun, diantarkan kedua putranya. Ingatanku langsung kepada Alm.Ibu, karena seingatku beliau adalah teman dari Alm.Ibu. Ibu tersebut duduk tepat disebelahku. "Nuwun sewu, menawi mboten klentu, dalem-ipun wonten AM. Sangaji njih Bu??", tanyaku kepada Ibu tersebut. "Injih mas leres...", jawabnya, "Nuwun sewu mas sinten njih...??", tanyanya. "Kulo putranipun Bu Nik....", jawabku si

Malaikat-Malaikat Kecil...

Segala hal yang kualami sungguh menjadikan sebagai ilmu dan pelajaran hidup yang tidak terlupakan, jika beberapa waktu lalu tulisanku tentang peranku sebagai Ayah untuk kedua orang tuaku, kali ini ingatanku kepada pelajaran menjadi Ayah untuk keponakanku. Tahun 2001 sungguh peristiwa yang sangat dahsyat dimana waktu yang menjawab bahwasanya tidak semua keinginan terwujud. Kakak tercinta yang kala itu hamil tua ternyata hamil sudah cukup bulan, harus berhadapan dengan maut. Proses melahirkan yang sungguh menghantuiku.  Preeklamsia , demikian kata dokter saat itu menyebut kondisi kakakku, mengingat sudah cukup matang dan siap melahirkan, Kakak dibawa ke ruang bersalin. Waktu berjalan sangat lambat, menunggu adalah hal yang menjadi ketakutan luar biasa, bayi yang ditunggu tak kunjung datang, bahkan oprasi-pun tak bisa dilakukan mengingat tensi Kakak yang sangat tinggi 200. Sampai akhirnya kabar sedih harus kami terima bahwa sang jabang bayi meninggal di dalam kandungannya. Dunia

Modus Sugih Nan Menggiurkan...

Pernah  gak Tiba-tiba mendapat pesan singkat di ponsel; "Ini pin-ku yang baru", dari nomor yang tidak kukenal.  "Selamat anda mendapatkan undian sebuah mobil bla bla bla..."inipun dari nomor yang tidak kukenal. Yang lebih dahsyat, anda sebagai nasabah Bank X mendapatkan hadiah......", yang satu ini semakin wow, karena kebetulan Bank X tersebut memang kumiliki tabungannya. Itu semua modus penipuan, jelas-jelas diakhiri dengan minta transfer uang (untuk yang hadiah), untuk yang nomer PIN, konon jika kita invite , nantinya gambar yang di profil Blackbery milik kita, akan dia save , untuk kemudia dia pakai sebagai photo profilnya yang selanjutnya untuk menipu. Dalam hal ini berbahagialah yang tidak memiliki BB, dan lebih bahagia lagi yang bukan narsis, sehingga tak jarang BB tanpa foto wajah, hehehe... Sebenarnya penipuan-penipuan tersebut sudah lagu lama yang kerap dijumpai, dan herannya masih ada saja orang yang kena tipu. Yang paling sering jika

Teruslah Tebar Kebaikan...

Agak menggelitik jika mengikuti dari para pembenci. Para pembenci ini selalu ada dimanapun berada, susah melihat orang lain bahagia, dan bahagia melihat orang lain susah. Jika sudah beginim mana kawan, mana lawan? Jika menolong dan berbuat baik disebutnya sok-sokan, pamer, sok pahlawan dan lain sebagainya. Bagaimana jika tertawa, happy dan gembira, itu disebut lebay, palsu, dan sebagainya. Yang lebih sedih jika hidup sukses, pasti akan dibilang alahhh masa lalunya adalah bla bla bla... Jika tegas disebut arogan, nah looo... Susah memang jika hidup hanya mengikuti tentang apa yang orang lain pikirkan lebih-lebih tentang pikiran para pembenci. Timbul pertanyaan "terus harus gimana donk?" Itu adalah status Blackberryku malam ini. Luar biasa, salah seorang sahabat menjawabnya "teruslah berbuat baik". Bukan perkara mudah saat semua hal kebaikan yang dilakukan selalu dihujat sang pembenci. Manusiawi bahkan jika akhirnya harus sedikit mengeluarkan tanduk, namun ka

Mikul Dhuwur Mendem Jero

Mungkin peribahasa Jawa tersebut baru bisa kupahami saat ini. Menyimak tentang seorang kawan yang bercerita tentang betapa indahnya masa pacaran dengan membanggakan sang calon dengan begitu penuh bunga tanpa cela. Sebagai kawan aku sangat bahagia dengan keindahan yang tergambarkan, semua indah, satu kata yang tepat adalah sempurna. Se sempurna kisah yang dia ceritakan.. Sampai akhirnya cerita tersebut berakhir pada jalinan pernikahan bahagia, dan berwarna warni, seperti tamu kondangan yang dandan untuk memberikan ucapan padanya, semua ingin " terlihat" sempurna... Dan perjalanan sesungguhnya dimulai.... Beda lagi dengan seorang kawan yang dengan sangat gembira bertutur tentang persahabatan luar biasa, tanpa cela dan semua luar biasa. Walaupun tidak berakhir kepada ujung cerita menikah, hubungan inipun tergambarkan secara luar biasa padaku.. Akhirnya waktupun berjalan... Baik yang menikah ataupun bersahabat memiliki masalah, seiring dinamika waktu yang terus berjalan, ba