Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2014

Hanya Alat....

Seorang kawan mengalami kecelakaan tunggal saat pulang dari kerja mengendarai motornya. Akibat abu vulkanik yang basah terkena hujan sering kali membuat licin jalan raya, nah lo jika sudah begini baiknya hujan atau tidak? Jika hujan rumah dan tanaman menjadi lebih bersih, namun abu yang dibawa air dan terseret ke jalan membuat jalan licin, atau tanpa hujan dengan abu yang berterbangan dimana-mana!? Itulah manusia...." ngewuhke ".... Kembali teman yang mengalamai kecelakaan tadi. Saat dia jatuh, dia dibantu oleh beberapa warga yang kebetulan sedang ada di pinggir jalan untuk sekedar menenangkan diri. Otomatis yang dilakukan adalah menghubungi keluarganya. Sungguh ajaib yang pertama kali ditanyakan adalah "motornya gimana? rusak gak!?", hehehehe.. Teringat pula dengan apa yang aku alami. Seperti yang pernah kutulis beberapa waktu lalu, saat hujan abu aku terbangun dari tidur jam 6.30 pagi, dan yang pertama kali terlintas adalah betapa AC Outdoor akan

Gank Rewo-Rewo

Tahun 2008 akhirnya aku mulai lagi melanjutkan mimpiku untuk meraih gelar sarjana, bukan usia muda lagi saat harus memulai belajar dan kembali meraihnya. Satu hal yang menjadi sedikit minder adalah saat harus berhadapan dengan teman-teman yang lebih muda. Itu awalnya. Seperti sebuah seleksi alam yang akhirnya membuat kami menjadi dekat dengan satu dan lainnya saat kelompok-kelompok di dalam kampus muncul. Layakmya suatu Gank yang tercipta dengan sendirinya. Jika ada pepatah yang mengatakan “Tingkat kedewasaan dan kematangan berpikir seseorang ternyata bukan dari usia”, itu benar adanya, ini hal yang aku dapat saat berkumpul dengan teman-temanku tersebut. Benar dalam menapaki hidup, sebagian besar mereka lebih muda dariku, namun pola pikir dan juga semangat menjalani kehidupan ini, banyak hal yang sering kali justru aku curi ilmunya dari mereka. Kami sering berbagi dan berbincang dalam banyak hal, dan aku sering mengamati hidup dan proses kehidupan mereka. Gank Rewo-Rewo,

Hujan Abu...

Jogjakarta 14 Februari 2014 Jum'at , Alunan soundtrcak suara musik Hwan Jing Yi mengalun cukup keras dari ponselku, membangunkan di pagi gelap yang cukup dingin tersebut. Masih berasa malas tatkala gelap masih kujadikan tanda bahwa ini masih terlalu pagi, atau bahkan terlalu mendung, tanpa kulihat penunjuk waktu yang berada di meja kamarku. "Hallo, pagi...", salam pembuka dengan penuh malas akhirnya keluar dari mulut bau nagaku, yang ternyata dari sahabatku Vivi. "Woiiii bangunnnnnn!!!! Coba tengok ke luar, abunya ngeri banget! Tebel!!, blah blah blah.... ",puanjang bangettttttt dan titttttt, metong! Buru-buru otak ini segera kuisi kembali dengan kesadaran, setelah semalam saat tidur kurasa isinya sudah berceceran entah kemana. Berusaha mengingat dan memahami semua kejadian. Pagi masih gelap, kamar masih dingin, dan abu...  Uopohhhhhhh ikiiiiii!!??? Gak jelas!! Yang aku tau aku masih di kasur dengan berpakaian dalam,  dibalik selimut.. (Gak u

Dan kini.....

Menginjak awal kepala 3, pertanyaan yang biasa singgah menghampiri saat bertemu sanak saudara, bahkan teman seangkatan adalah "Kapan menikah?" Dan saat pertanyaan itu muncul, pada waktu itu dengan  lantang kujawab "Hidup itu pilihan, jadi jangan ikut campur". Secepat itu menjawab, tanpa berpikir panjang. Bagaimana denganku sekarang, saat tiap detik dan tiap waktu usiaku akan bertambah.. 2 Minggu lalu saat terbangun dari lelapku, dunia benar-benar berputar kurasakan, aku harus berusaha mati-matian untuk bisa bangun. Sendiri tanpa ada bantuan siapapun kutegarkan hati dan pikiranku untuk melawan semua bayangan kabur dan berputar saat kubuka mata ini. Sungguh perasaan cemas, bahkan panik mulai menyerang. Setiap mata ini terbuka, saat itu juga semua hal yang kulihat berasa berputar, spontan badan ini kuajak untuk tidur dan merebahkan diri kembali, namun bukannya aku merasa nyaman, justru panik menjadi-jadi saat aku merasa mau jatuh. Padahal aku masih di atas t

Tengah Januari 2014

Ada sahabat yang minta tolong untuk tinggal sementara dirumahku akan suatu alasan. Jadilah rumahku kembali ramai oleh kehadiran sahabatku dan ke 2 orang anaknya. Rumah yang biasanya hanya berisi suaraku akhirnya kembali dihiasi oleh ramainya Vivi dan anak-anaknya. Mungkin karena diposisikan menjadi anak tunggal, dulu sering membuatku tidak nyaman jika rumah ditinggali banyak orang. Bahkan aku paling tidak suka anak kecil. Bagiku anak kecil itu sangat mengganggu dan berisik, apalagi jika sedang merengek-rengek, gak banget!! Ternyata banyak yang berubah.. Kehadiran Vivi dan anak-anaknya merubah sudut pandangku. Pagi hari adalah waktu seru dimana aku bisa melihat polah ibu dan ke 2 anaknya beraktifitas, Vivi sibuk menyiapkan sarapan pagi, sedangkan ke 2 anaknya sibuk menyiapkan segala hal guna menuju sekolah. Setengah jam waktu "heboh" itu berlalu dan rumah kembali sepi, setelah ke 2 anak tersebut mencium tanganku tuk berangkat ke sekolah diantar Vivi. Pulang kerja rumah su

Awal 2014

Hidupku diawali dengan sendiri pada awal tahun ini. Bapak berpulang menjelang akhir tahun kemarin... Semua meninggalkan banyak cerita, banyak pelajaran tentang arti hidup sebenarnya. Hidup hanya fana, semu tidak ada yang abadi. Semenjak kepergian mendiang Bapak, sepi yang kurasa. Dan perasaan sepi itu sering menjadi jadi, bahkan terkadang menggila. Ternyata aku masih membutuhkan Babe di sampingku, dengan adanya Babe aku merasa lebih berguna dan memiliki tanggung jawab. Tidak hanya pada diriku, tapi juga pada Babe.. Sekarang semua itu hilang, meninggalkan teka-teki hidup yang harus kujalani sendiri.