Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Copy Paste

Pernah gak sedikit berpikir dan mengakui bahwa kita ini adalah hasil mengcopy dari apa yang orang tua contohkan. Aku misalnya, Alm Mami itu sosok flamboyan yang gemar dandan. Beliau miss matching, dari ujung rambut sampai sepatu. Bahkan pernah suatu kali bertemu dengan mantan muridnya mengatakan yang sama. "Bu Nik itu kalo pakai rok hijau, pasti antingnya hijau, dan sebagainya.." Aku gak serta merta mencotoh persis, namun yang jelas aku flamboyan sedikit banyak karena beliau. Beda dengan Alm.Babe, yang hobby sekali pegang sapu dan bebersih. Aslinya aku juga suka dengan mbabu wanna be. Asyik lho, tapi itu sesekali saja kulakoni saat ini... Kata orang yang namanya anak itu lebih suka melihat daripada mendengarkan, makanya tidak jarang anak-anak yang ada susah dikasih masukan, tapi mereka pintar mencontoh. Dan aku selalu punya keyakinan akan hal tersebut. Memang, saat ini kami belum diberi momongan, namun seyogyanya sebagai orang tua memberikan contoh yang baik

Pilah dan Pilih

Media sekarang2 ini sedang memberitakan seorang artis yang meninggal mendakak. Tidak begitu kenal dengan yang diberitakan, namun yang aku baca dia sosok yang sayang dengan istri dan juga sayang sama anaknya. Bahkan dia sosok yg suka dermawan. Cukup sampai situ? Saya kira iya.  Lebih bagus cukup sampai disitu, mengenang dan tau betapa yang meninggal adalah sosok yang baik. Gak perlu berusaha mencari-cari aib orang lain, apalagi yang sudah tiada. Hari ini aku ngantor naik Taxi Onlen. Pertimbannya adalah badan gak enak, dan kebetulan ada orang meninggal tepat di pintu masuk jalan ke kantor, sehingga aku gak mungkin bawa Qubik.  Driver yang mengantarkanku adalah sseorang mahasiswa yang katanya tinggal menunggu wisuda. Asli Jakarta, dan kuliah jurusan Bahasa Indonesia. Kenapa ambil Bahasa Indonesia, kata dia agar bisa kerja di luar, kalo tidak Jepang ya Australia.  Menarik ya.. Karena kata dia Bahasa Indonesia, termasuk mulai wajib dipelajarai di kedua Negara tersebut

CURHATAN NIKAH

5 Tahun lalu, bulan-bulan ini adalah bulan yang sangat melelahkan buat kami, terutama buatku. Hari-hari putar otak dan mengatur waktu antara kesibukan kerja, audit BPK, persiapan RAT, dan mengurus pernikahan yang gak lama lagi. Sungguh bukan perkara mudah disaat semua hal harus dihandle sendiri. Walaupun aslinya aku berangkat dari keluarga besar, namun saat terbiasa menjadi anak tunggal. Sehingga semua hal aku tangani sendiri. Eh salah, berdua ding dengan istri. Sadar, semua orang sudah punya kesibukan masing-masing. Sejak kemarin ada seorang teman yang ingin berumah tangga. Semoga dimudahkan dan disegerakan, merasa butuh teman diskusi, ya aku jabanin. Secara bagian diajak ngomong hal apapun bagiku meng-asyikkan, apalagi yang model mau berumah tangga gini. Bisa lah sedikit diarahkan kejalan yang buruk hahahaha. Bukan perkara mudah menyatukan dua keluarga yang berbeda, bahkan satu suku saja terkadang ada saja adat di masing-masing daerah agak berbeda. Namun bagiku dulu, ya

Pergi Dan Sampai Jumpa..

Berapa kali anda melayat?  Rasanya sudah berkali-kali jika ditanya dengan pertanyaan ini. Aku pribadi, aslinya tidak suka dengan yang dinamakan melayat atau takziah. Salah satu alasanya, saat melayat sering kali ajang reuni dalam waktu yang tidak tepat. Berkumpulknya persaudaraan dalam suasana yang tidak enak. Kedukaan. Well, maut tak dapat ditolak, semua orang pasti akan mati. Mati yang seperti apa yang diharapkan nanti, hanyalah Hak Allah yang Maha Mengetahui. Jika pertanyaan aku ganti dengan berapa kali anda mengantarkan seseorang untuk pergi dan tak kembali? Pasti beragam jawaban. Aku pernah mengantarkan suatu kepergian yang indah dari almahrum Babeku. Beliau berpulang saat aku diijinkan Allah SWT memohonkan doa di sampingnya.  Namun aku juga pernah mengantarkan kepergian orang yang terkasih pergi dalam keadaan kurang indah. Detailnya tak perlu kusebutkan disini, banyak hati yang harus kujaga. Namun yang jelas, setiap kejadian aku selalu ingat baik dalam piki

Gaya Hidup Tidak Bertanggung Jawab.

Tahun 2000an dunia onlen belum sepesat sekarang. Tahun itu masih kuingat orang punya ponsel masih jarang. Kehadiran teknologi yang baru hits adalah internet, yang biasa aku akses melalui warnet. Bisnis warnet ini sangat menjamur. Bahkan banyak yang memberikan fasilitas "lebih" pada ruangannya. Dari yang sekedar bilik standar dengan sekat kain, sekat triplek, bahkan yang berdinding rapat. Tujuannya apa? Kenyamanan prifacy pastinya. Dan hampir semua tempat model begini aku sudah coba. Jauh sebelum ada Wasap, BBM dan sejenisnya, ada Yahoo Messenger, dan MiRC. Semakin canggih ada mig33. Yang seangkatanku pasti tau dengan semua aplikasi tersebut. Kecuali orang-orang lugu dan lurus dalam hidupnya. Berbahagialah anda.. Usia 30 Tahun adalah usia keemasakan bagi seorang pria. Aku pernah baca, saat usia 30, pria harus mulai punya fokus dalam hidup. Sudah harus bisa menentukan arah hidupnya. Saat itu aku masih terbuai dengan "palsunya" hidup berselancar si dunia

Jika Ragu.. Tinggalkan.

Bagi pasangan berumah tangga, pastilah kehadiran buah hati atau momongan sangat dinantikan. Bukan saja hanya sebagai penerus keturunan, namun lebih dari itu, kehadiran momongan di tengah keluarga rasanya lebih memberi warna dalam rumah tangga. Ada banyak cinta, ada tanggung jawab, dan sebagainya. Entah sudah berapa kali kami melakukan ihtiar, semua proses berusaha kami lakoni, dari medis sampai dengan tradisional. Suatu ketika sepulang dari jalan-jalan bersama istri malam Mingguan, kami dipertemukan kepada driver Taxi Onlen, dan dari beliau kami disarankan ke suatu tempat di wilayah Jogja Bagian Utara, konon katanya banyak yang manjur. Namanya orang sedang ihtiar, pasti saat mendengar informasi semacam itu tidak mensia-siakan. Di Hari Minggu paginya kami bergegas mendatangi tempat yang dimaksud. Hanya mengandalakn bantuan GPS akhirnya kami berhasil menemukan tempat yang dimaksud. Area ruangan terbuka dan disebelahnya terdapat area pemakaman. Ada sedikit keraguan saat hendak

Menari Klasik

Gambar
Jaman masih duduk di bangku Sekolah Dasar, urusan menghapalkan gerak di dunia tari menari bukanlah perkara sulit buatku. Mata pelajaran Kesenian adalah mata pelajaran paling gampang aku pelajari. Otak kanan masih oke menerima semua pelajaran hapalan. Banyak yang bilang aku menari dengan luwes, enerjik, lincah, membinal, liar hahahaha... Sekarang!!?? Saking lamanya menggunakan otak kiri, bukan perkara mudah lagi menerima materi ragam gerakan. Itu hal pertama yang aku rasakan beberapa hari ini. Berusaha menjadi siswa di Ndalem Pujokusuman dari "nul puthul" istilah dari kelas nol banget (*dibaca awam sangattt). Kelas sudah dimulai sejak awal Januari lalu, sedangkan aku baru masuk awal Februari, itupun karena peran salah satu teman baik. Bisa kebayang jika seMinggu masuk duakali, artinya aku sudah ketinggalan 8 kali pertemuan. Gerakanku grotal gratul , seblakan sampur salah, tendangan salah sasaran, bahkan gelungan modal madul itu biasaaa..... Apapun itu sikat saja.

Olah Raga Olah Rasa (Bag 2)

Konon olahraga mampu membuat orang menjadi lebih bahagia. Rasanya benar apa yang disampaikan tersebut, aku dulu merasakan efek gembira tiap kali rajin menjalaninya, dan ada efek semangat menjalani hari-hari. Berenang sebagai salah satu pilihan olahraga. Namun terkadang berurusan dengan fasilitas umum membuat aku kurang nyaman. Satu-satunya kolam renang yang memiliki standar paling nyaman buatku hanya di kampus UNY. Sayangnya harus pinter-pinter memilih hari serta jam, seringnya berbarengan dengan anak-anak yang tergabung dalam club-club renang membuatku enggan berangkat. Belum lagi jika hawa dingin lagi datang, semakin membuat males gerak. Bagaimana dengan gym? Beberapa waktu lalu, aku pernah jadi member tempat gym di Jogja. Hasilnya? Nol besar. Paling berangkat hanya beberapa kali doank, gak seru.. Hanya memainkan benda-bensa mati. Alat favorit ya cuman treadmil (bener gak tulisannya? Hehe), kegiatan favorit cuman dibilik sauna. Dahhh gitu aja terus. Asli gak guna..

Olah Raga Olah Rasa (Bag 1)

Desember akhir taun adalah bulan yang cukup mengerikan untuk kami para admin melon, terutama untukku. Segala macam deadline berdatangan, dari urusan laporan keuangan kantor, laporan tahunan, bahkan audit BPK yang sudah di depan mata. Sungguh kelelahan mental yang kurasa cukup berat, belum lagi PR persiapan Rapat Anggota Tahunan di kantor, dan juga LPJ Masa kepengurusanku sebagai ketua BM. Konon kata orang semakin berumur, banyak hal yang semakin mulai memudar. Dan itu rasa-rasanya memang takdir yang benar adanya. Setiap jelang kedatangan team audit BPK pasti rasa lelah fisik dan bathin meninggalkan sakit buatku. Hampir setiap tahun jelang kedatangan BPK aku harus bolak balik ke dokter bahkan Rumah Sakit. Semua persiapan yang telah dibuat, rasa-rasanya selalu tidak berakhir dengan mulus. Entah sudah berapa banyak kami harus kirim data yang sebenanrya sama. Selalu berulang-ulang, layaknya cerita seram yang sangat tidak lucu. Namun sayangnya kami tak pernah bisa menolak