Postingan

Aku dan Bapak

Bukan hal aneh seorang anak laki-laki cenderung dekat dengan Ibu, sedang anak perempuan suka bermanja-manja dengan Bapak. Demikian juga denganku.. Sejak ikut dikeluarga baru ini aku begitu dekat dengan Ibu, sedangkan Bapak sosok canggung buatku. Dari kecil aku sudah biasa berantem dengan Bapak. Yang ada diotakku saat itu adalah semua hal yang kulakukan salah di mata Bapak. Oleh sebab itu pada kesempatan apapun Ibu mengajakku serta kemanapun beliau ada acara, alih-alih daripada aku dirumah berantem ma Bapak. Hal itu berlangsung lama, hingga aku memutuskan untuk tidak berbicara dengan Bapak, kecuali perlu dan penting. Terdengar aneh ya? Tapi itu yang kulakukan demi menghindari konflik, lagian malu berantem mulu dengan Bapak... Teringat semua kenangan itu, hingga malam ini aku tersenyum dan berpikir, betapa hidup ini adalah skenario Tuhan yang luar biasa indah. Gimana gak keren coba? Ibu yang biasanya menjadi pelindungku dan mendamaikan jika terjadi selisih paham antara kami, kini sud...

Selamat Jalan Ib....

2 Minggu sudah Ibu kembali kepada Sang Maha Pencipta, satu persatu barang-barang peninggalan beliau mulai kurapikan. Sesekali senyum ini keluar tatkala melihat begitu banyaknya sepatu-sepatu, dan juga baju-baju peninggalanya. Barang-barang yang sudah ditinggalkan tuan-nya. Senyum ini tak pernah lepas saat mengingat dulu jaman Ibu terkasih masih bekerja dan mengajar sebagai Guru Taman Kanak-Kanak. Beliau perempuan yang modis, jika bersepatu biru maka anting-antingnya pasti berwarna senada, dan seterusnya. Maka tidak heran jika sekarang peninggalanya masih banyak, ditambah beliau sangat rapi menyimpan barangnya-barangnya. Untuk baju-bajunya saja beberapa kardus besar baru cukup, belum lagi sepatu-sepatu dan tas. Mungkin dari Ibu aku menuruni bakatnya mengkoleksi tas-tas dan sepatu-sepatu yang kadang tidak jelas mau diapakan tersebut hehehehe... Untuk urusan nyusuh , beliau juga jagonya. Konon, para wanita sepuh suka sekali menyimpang barang-barang yang katanya sayang untuk dibuang,...

Penari Buncit...

Dapat lotre rasanya gambaran ketika diajak menari kembali bersama kelompok tari Bala Maharddhika. Dunia panggung yang sudah agak lama aku tinggalkan kembali ditawarkan. Jika dilihat dari usia, bolehlah menari lagi, toh masih imut ini (hiahahahaha), tapi yang jadi masalah adalah perut sexy-ku yang membulat dan montok, bagaimana bisa aku menyembunyikannya?  Entah kegilaan apa yang ada diotakku, sehingga aku ambil kesempatan tersebut, jujur aku kangen dengan suasana belakang panggung. Seperti biasa, dengan menyanggupi untuk tampil, artinya harus siap dengan waktu latihan yang melelahkan, beruntunglah jam kerja kantorku yang cukup santai bisa membuatku leluasa mengikuti jam latihan.  Latihan hari pertama serasa gojlokan mahasiswa baru, seluruh badan sakit sampai ke persendian. Sepertinya badan ini kaget dengan aktifitas yang telah lama aku tinggalkan. Belum lagi ternyata kemampuan otak yang cukup lemot untuk mengingat semua gerakan dan bentuk koreografi yang diberikan. ...

Bukan Keluhan...

Sejauh mana kekuatan manusia bertahan untuk hidup itu semua hanya Tuhan yang tau, sebagai umat yang masih diberi kepercayaan dengan raga titipan ini tugas kita adalah menjaga sebaik-baiknya sampai saat dimana raga ini harus diminta dan dikembalikan padaNya. 2 Minggu lalu bunda tercinta mogok makan, entah dikarenakan kondisi yang tidak enak, atau tubuhnya yang mulai renta. Sebagai orang yang sehat, sungguh pemandangan yang sangat menjengkelkan ketika semua hidangan yang telah kusediakan tak satupun berkenan untuk beliau, satu kata sakti yang selalu kuingat adalah "sabar". Sampai kapan? Bujukan lembut untuk sekedar makan seringkali berlalu layaknya angin, bahkan tekadang membuatku emosional. Yang aku tau, kesabaran hati tidak sama dengan kesabaran raga titipan ini, dan benar saja kesabaran hatiku diujung tenggorokan yang membuatku ingin sekali berteriak, untuk sekedar melepaskan rasa ini.Kesabaran raga ibu-pun ikut menyerah, setelah melihat kondisi ibu yang semakin hari sema...

Kasihan VS Ketergantungan

Pernah gak jatuh pada posisi yang sangat tidak nyaman? Saat dimana menjadikan keadaan ingin kau kembalikan ke pada masa dimana bisa diputar kembali, lagi, lagi, dan lagi... Langkah seseorang dalam hidup dan kehidupan seringkali menjumpai suatu hal, dimana hal tersebut membuahkan rasa simpati, empati, bahkan belas kasihan. Untuk kata terakhir tersebut aku ambil di sini. Ya, rasa kasihan. Seringkali saat melihat derita yang dialami orang lain, rasa iba yang notabene berteman baik dengan kasihan langsung muncul. Saat mengasihani seseorang bukanlah saat dimana, harus menjadikan orang tesebut menjadi sosok "sempurna", tapi yang benar adalah cukup ajarin dia untuk bisa bangkit, berdiri, untuk kemudian mampu melangkah bahkan berlari sendiri, jangan pernah mengharapkan imbalan apapun. Alih-alih kasihan seringkali menjadikan seseorang tersebut bergantung, bahkan terlalu mengandalkan sang penolongnya. Jika sudah begini letak kesalahan pada sang penolong, atau yang menolong? Bagi...

Deodorant...

Malam Minggu kali ini kulewati dengan hal yang paling kusuka, apalagi kalo bukan buang buang duit. Boleh donk sekali waktu foya-foya dikit, menikmati hasil keringat sendiri yang dikumpulkan dalam waktu sebulan dan kemudian diambil dlm wujud kata sakti "gaji". Progo, adalah swalayan yang menjadi pilihanku kali ini, secara letak geografi cukup jauh dari rumah, tapi yachhh sekalian jalan-jakan gak ada salahnya, apalagi di foodcourt banyak makanan yummy... Asekkkk... Tanpa keliling-keliling menyusuri toko, langkah ini langsung menuju swalayannya. Sering kali masih bisa dijumpai dan disediakan barang-barang yang terkadang masuk dalam katagori "langka" di toko ini, dan itu sudah menjadi rahasia umum, ada juga yang bilang harganya miring (tapi kulihat semua harga tercetak lurus dengan dicetak tebal huruf arial hehehehe jadi miring itu hanya gossip). Tiba-tiba mata ini tertuju oleh warna abu-abu pada rak yang memajang kaleng minyak wangi. Sudah cukup lama aku tidak meli...

Baik Punya Versi...

Menjadi orang baik idel itu yang gimana ya? Baik menurutku belum tentu sama dan sejalan dengan idealisme kebaikan versi anda, kamu, sampeyan, ente... Dengan diam, biasanya satu satunya aksi yang kulakukan saat tidak suka ataupun tidak setuju akan suatu hal yang tidak baik. Hal tersebut kulakukan demi sebuah nama "menjaga perasaan orang lain". Dan hasilnya adalah, aku kena penyakit liver, entah itu berhubungan atau tidak, aku kurang tau. Tapi yang jelas sakit hati yang sering kurasa, membuahkan sakit liver. Eit, itu dulu... Sekarang aku lebih bisa menekan perasaan sensitif menjadi perasaan cuek. Ternyata memang enak ketika menjadi diri sendiri, aku tau batasan baik dan buruk versiku. Selama tidak merugikan orang lain, bagiku cukup. Jika orang lain menganggapku bukan orang baik, ya ku kembalikan pada masing-masing orang menilainya, bukankah lebih seru jika tidak semua orang beranggapan seragam tentang kita? Hidupku tidak hanya sekedar pencitraan, wajar aku punya sisi kebaika...